Tampilkan postingan dengan label Fakta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fakta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juli 2015

Agama Mayoritas Yang Di-Minoritaskan...

 
 
Kami mau berpuasa, diminta menghargai yang tidak puasa..
Kami mau mendengar lantunan ayat suci Al-Quran,
kakek renta itu menyebut "polusi udara"..
Kami mau takbir keliling, dihambat dengan berbagai alasan..
Kami mau merayakan hari kemenangan, masjid dibakar..
Kami meminta hak kami, disebut Gak Toleransi..
Kami membela diri, disebut Teroris..
Kami diserang, Media Bungkam..

 Mereka kena gores sedikit, Beritanya sampai ke Ujung Dunia..
Mereka yang jelas menyerang, disebut "Hanya Oknum"..
Sungguh Kebathilan yang sangat NYATA..
Itukah Hasil Revolusi-mu?,
Kemanakah HAM dan Toleransi-mu?,
Kemanakah "Barisan Penjaga Bulan Desember" itu,
sehingga tempat ibadah sendiri pun tidak dijaga ?,
Apakah sudah terlalu kenyang tertidur sehingga tak tau masjid dibakar ?..
 
Kami bangga dengan ilmunya AA GYM..
Kami bangga dengan Dzikrullahnya ARIFIN ILHAM..
Kami bangga dengan motivasinya YUSUF MANSYUR..
Kami bangga dengan kepolosannya MAMAH DEDEH..
Tapi..
Kami juga perlu "Singa Yang Garang" Yang Bersuara Lantang Membela Harkat, Derajat dan Martabat Umat dan Agama Ini..
Hidup Mulia.. Atau Mati Syahid..

 Semoga Allah Memberkahi dan Melindungi Laskar dan Pejuang Islam Lainnya, Dimanapun Mereka Berada.. Untuk Bersama Melawan Kebathilan ini...
..Aamiinn Ya Rabb..
 

Selasa, 14 Juli 2015

UU Anti-Gay di Rusia

Presiden Putin Sahkan UU Anti-gay di Rusia.
 
 
 
 
Dilarang melakukan kampanye gay alias homoseksual di Rusia. Sementara sejumlah negara, seperti Prancis dan Selandia Baru, melegalkan hubungan sesama jenis, negeri pecahan Uni Soviet itu justru menentang keras hal ini, bahkan sampai membuat Undang-undang khusus.

Presiden Rusia Vladimir Putin baru saja mensahkan UU Anti-gay di Rusia. Salah satu isi UU tersebut berupa larangan untuk mempropagandakan homoseksualitas.

Sejak disusun, saat masih menjadi RUU, aturan ini sudah menuai protes. Disebut-sebut sebagai penghinaan, kebencian, dan diskriminasi terhadap kaum gay.

Namun, segala macam protes dan keberatan diabaikan. Bahkan, sejak RUU ini dilayangkan ke parlemen, Presiden Putin telah berjanji untuk menyetujuinya.

"Kita harap negara lain tidak ikut campur dalam urusan negara kami yang menentang gay," kata Putin yang menanggapi kritik dari dari negara Barat dan kelompok-kelompok penegak hak asasi manusia (HAM), seperti dimuat News.com.au, 30 Juni 2013.

Dengan disahkan UU ini, Rusia mempertahankan budaya lama yang hanya melegalkan hubungan berbeda jenis. Pemerintah Rusia akan menindak tegas penyebaran informasi dan tindakan apapun yang berkaitan dengan gay, mengkriminalisasikannya.

Jika ada warga yang melanggarnya akan dikenakan denda $ 168.87 atau sekitar Rp 1,7 juta. Untuk pejabat negara yang melanggarnya, mereka akan diminta untuk membayar denda sebesar $ 6.250 atau sekitar Rp 62 juta.

Sementara, bagi para warga negara asing tidak akan dikenakan denda, tapi akan dipenjara selama 15 hari, lalu dideportasi. Untuk organisasi yang melanggar, akan didenda 1 juta rubel atau Rp 303 juta dan dilarang beraktivitas selama 90 hari. (Riz/Ein)
 
 



Selasa, 24 Februari 2015

Wanita Jaman Sekarang Bro..!!





Wanita jaman sekarang Bro..!!
 Pake baju kebarat-baratan,

 ngga gaul,,
dibilang kamseupay..

 Pake baju keliatan ketek,
kebawah pake rok pendek..
 Diingetin malah cuek,
 Dibilangin malah balik ledek..


 Laki-laki tak enak rasa,
liat aurat didepan mata,
ditutup mata,
tapi bukan orang buta..

 Laki-laki langsung mendekati,
tak perlu kata atau basa basi,
yang penting langsung penalti..

 Masalah akibat,
gimana nantilah..

Giliran wanita sudah celaka,,
laki laki diam seribu kata,
saling bertanya salah siapa..

 Dua-duanya tidak mau nerima,
 waktu udah celaka,
orang tua yang kena..

 Berdoa ditiap tahajud dan dhuha,
mudah-mudahan di ampuni dosa
atas kelalaian mereka..

 Ini bukan drama korea,
yang bercinta trus bahagia
walau mereka tidak sah..

 Wahai kaum muda,
masa depan ada didepan mata,
jangan dirusak jangan dipecah,
menyesal pasti diakhir jua..

Minggu, 08 Februari 2015

Waspada Istilah Makanan yang Mengandung Daging Babi



Berikut adalah beberapa istilah atau sebutan lain dari bahan baku makanan mengandung dagin babi :

Pig: Babi muda dengan berat kurang dari 50 kg.

Pork: Daging babi.

Swine: Daging babi untuk seluruh spesies babi.

Hog: Babi dewasa dengan berat melebihi 50 kg.

Boar: Babi liar, babi hutan, atau celeng.

Lard: Lemak babi, biasa digunakan sebagai minyak untuk masakan, kue, atau bahan sabun. 

Bacon: Daging hewan yang diasapi, terutama babi. 

Ham: Daging babi bagian paha.

Sow: Babi betina dewasa (namun istilah ini jarang digunakan).

Sow milk: Susu yang dihasilkan dari babi.

Bak: Daging babi dalam bahasa Tiongkok.
Misal: Bak Kut Teh, bakkwa.

Char siu, cha siu, char siew: Mengacu hidangan kanton berupa daging barbeku.

Cu Nyuk: Daging babi dalam bahasa Khek/Hakka. Istilah ini digunakan dalam makanan siomay dan bubur.

Rou: Babi dalam bahasa Mandarin.
Misal: hingshao rou, rou jia mo, tuotuorou, yuxiangrousi.

Dwaeji: Daging babi dalam bahasa Korea, biasanya digunakan sebagai varian dalam bulgogi dan galb.

Tonkatsu: Hidangan Jepang berupa irisan daging babi yang digoreng dengan tepung panir.
Tonkotsu: Hidangan Jepang berupa ramen berkuah putih keruh, terbuat dari tulang, lemak, dan kolagen babi. 

Butaniku: Sebutan daging babi dalam bahasa Jepang.

Yakibuta: Hidangan Jepang mirip char siu, biasanya digunakan untuk toping ramen.

Nibuta: Hidangan Jepang berupa pundak babi yang dimasak dengan sedikit kuah.

B2: Sebutan untuk makanan yang berbahan daging babi di daerah Batak dan Yogyakarta.

Khinzir: Nama untuk babi dalam bahasa Arab dan Melayu.


Semoga bermanfaat..!!


Kamis, 29 Januari 2015

SABAR MENGHADAPI UJIAN & COBAAN HIDUP




Sesungguhnya ujian dan cobaan yang datang bertubi-tubi menerpa hidup manusia merupakan satu ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla. Tidak satu pun diantara kita yang mampu menghalau ketentuan tersebut.
Keimanan, keyakinan, tawakkal dan kesabaran yang kokoh amatlah dibutuhkan oleh seorang hamba dalam menghadapi badai cobaan yang menerpanya. Sehingga tidak menjadikan dirinya berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala terhadap apa yang telah ditentukan baginya.

Oleh karena itu, dalam keadaan apapun seorang hamba yang beriman kepada-Nya harus senantiasa berbaik sangka kepada Allah. Dan haruslah diyakini bahwa tidaklah Allah menurunkan berbagai musibah melainkan sebagai batu ujian atas keimanan yang mereka miliki.

Allah Ta’ala berfirman :

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk ke dalam surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya : Bilakah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amatlah dekat.”
(Al Baqarah : 214)

Kesabaran merupakan perkara yang amat dicintai oleh Allah dan sangat dibutuhkan seorang muslim dalam menghadapi ujian dan cobaan yang dialaminya.

Sebagaimana dalam firman-Nya :

“…Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran : 146)

Selama roda kehidupan terus berputar, seorang takkan pernah luput dari menuai ujian dan cobaan. Dengan berbagai musibah yang datang silih berganti ini, hendaknya seorang introspeksi diri dan semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala. Bukan mengambil jalan pintas dengan mengklaim ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan-Nya. Karena tidak ada yang bisa memberikan solusi terbaik dari berbagai ujian dan cobaan hidup melainkan hanya Allah Azza wa Jalla.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menggambarkan kriteria seorang mukmin dalam menyikapi ketentuan Allah Subhanahu wata’ala,
beliau bersabda :

“Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya. Dan tidaklah didapatkan pada seorang pun hal tersebut melainkan pada diri seorang mukmin : Jika dia merasakan kesenangan maka dia bersyukur. Dan itu lebih baik baginya. Jika kesusahan menerpanya, maka dia bersabar. Dan itu lebih baik baginya.” (Riwayat Muslim)

 Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah, beliau menerangkan tentang hadits di atas :
(Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya), maksudnya :
“Sesungguhnya Rasul ‘alaihis sholatu wassalam menampakkan kekaguman beliau dengan pandangan kebaikan (terhadap perkara seorang mukmin), maksudnya :
“terhadap urusannya.”
Maka sesungguhnya seluruh urusan itu (dianggap) baik baginya dan tidak terdapat hal tersebut kecuali pada diri seorang mukmin. Kemudian Rasul ‘alaihisholatu wassalam memberikan rincian tentang perkara kebaikan tersebut dengan sabdanya : (Jika dia merasakan kesenangan maka dia bersyukur. Dan itu lebih baik baginya. Jika kesusahan menerpanya, maka dia bersabar. Dan itu lebih baik baginya).
Beliau (Asy Syaikh Al Utsaimin) berkata :
“Ini adalah keadaan seorang mukmin. Setiap manusia berada dalam ketentuan-ketentuan Allah, baik berupa kesenangan maupun kesusahan. Dan manusia dalam menyikapi ujian dan cobaan ini terbagi menjadi dua golongan : mukmin dan non mukmin (kafir).

Adapun golongan Mukmin ; menganggap baik segala ketentuan Allah baginya. Jika kesusahan itu menimpanya, maka dia bersabar atas ketentuan-ketentuan Allah dan senantiasa menanti pertolongan-Nya serta mengharapkan pahala Allah. Semua itu merupakan perkara yang baik baginya dan dia memperoleh ganjaran kebaikan selaku orang-orang yang bersabar.

Jika kesenangan itu mendatanginya, baik berupa kenikmatan agama ; seperti ilmu, amalan sholih dan kenikmatan dunia ; seperti harta, anak-anak dan keluarga, maka dia bersyukur lagi menjalankan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.

Oleh karena itu, seorang mukmin memperoleh dua kenikmatan, yaitu : kenikmatan agama dan dunia. Kenikmatan dunia diperoleh dengan kesenangan dan kenikmatan agama diperoleh dengan bersyukur. Maka inilah kondisi seorang mukmin.

Adapun golongan non mukmin ; (Sungguh) berada dalam kejelekan, wal’iyyadzubillah. Jika kesusahan itu menimpanya, maka dia tidak sabar, berkeluh kesah, mencemooh, mengutuk, mencerca masa (waktu) bahkan mencela Allah Azza wa Jalla. 

 Jika kesenangan menghampirinya, dia tidak bersyukur kepada Allah. Maka kesenangan ini akan menjadi balasan siksaan di akhirat. 

 Maka kondisi orang kafir tetap jelek, baik mendapatkan kesusahan maupun kesenangan. Berbeda halnya dengan orang mukmin yang senantiasa dalam kebaikan dan kenikmatan.

Ada beberapa faedah (yang bisa kita ambil) dari hadits ini :
  • Adanya dorongan (untuk tetap kokoh) diatas keimanan. Dan seorang mukmin senantiasa dalam kebaikan dan kenikmatan.
  • Adanya dorongan untuk sabar atas kesusahan yang menimpa. Karena (sabar) merupakan perangai keimanan. Apabila anda sabar dalam menghadapi kesusahan dan diiringi dengan menanti (pertolongan) Allah agar dibebaskan dari (kesusahan tersebut). Kemudian mengharap pahala Allah Subhanahu wata’ala, maka hal tersebut merupakan tanda keimanan.
  • Adanya dorongan untuk bersyukur tatkala (memperoleh) kesenangan. Jika seorang bersyukur kepada Rabbnya atas nikmat yang diperoleh. Maka ini adalah taufiq dari Allah dan termasuk salah satu sebab bertambahnya kenikmatan, Sebagaimana Allah berfirman :

    “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim : 7).



Jika Allah memberi taufiq kepada seorang hamba untuk bersyukur kepadanya, maka ini adalah suatu nikmat yang patut untuk disyukuri untuk kedua kalinya. Dan apabila dia diberi taufik lagi, maka itu adalah suatu nikmat yang patut disyukuri untuk ketiga kalinya. Demikian seterusnya.
Sedikit sekali manusia yang mensyukuri nikmat-Nya. Oleh karena itu, jika Allah menganugerahkan kepada anda rasa syukur dan memberikan pertolongan padanya, maka ini adalah nikmat. Oleh karena itu, disebutkan dalam sebuah sya’ir :
 
Jika rasa syukur terhadap nikmat Allah itu adalah sebuah nikmat, Maka yang semisalnya (nikmat tersebut) wajib pula disyukuri.
Tidak akan sampai rasa syukur itu melainkan dengan keutamaan-Nya,
Walaupun hari-hari (masanya) panjang dan umur pun (masih) menyertai.
(Syarah Riyadhus Sholihin hal 95-96 cet Darul Aqidah)

Alangkah indahnya perangai seorang mukmin ketika menghadapi ketentuan-ketentuan yang berlaku padanya. Jika ujian itu datang berupa nikmat, maka dia mensyukurinya. Dan jika ujian itu datang berupa kesulitan, kesusahan, kemiskinan, kelaparan, musibah dan sebagainya, maka dia bersabar dengannya. Dua perangai tersebut, yaitu syukur dan sabar merupakan amalan yang agung, bahkan keduanya termasuk dalam perangai keimanan. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian Salaf :

“Iman itu dua bagian, bagian pertama adalah sabar dan bagian kedua adalah syukur.”

Dan mereka menyandarkan perkataan tersebut dengan firman Allah Azza wa Jalla :

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.” (Ibrahim : 5)

Macam-Macam Kesabaran  Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan dalam Madarijus Salikin :

“Sabar adalah menahan jiwa dari keluh kesah dan marah, menahan lisan dari mengeluh serta menahan anggota badan dari berbuat tasywisy (tidak lurus). Sabar ada tiga macam : Sabar dalam berbuat ketaatan kepada Allah, sabar dari maksiat, dan sabar dari cobaan Allah.”

Oleh karena itu sabar dibagi menjadi tiga tingkatan :
  • Sabar dari meninggalkan kemaksiatan karena takut ancaman Allah, senantiasa dalam keimanan dan meninggalkan perkara yang diharamkan. Yang lebih dari ini adalah sabar dari meninggalkan kemaksiatan karena malu kepada Allah. Penyebutan sabar dari maksiat memiliki dua sebab dan dua faedah :

Sebab pertama adalah takut ancaman yang akan menimpanya bila melakukan maksiat. 
Sebab kedua adalah malu kepada Allah.
Adapun dua faedah sabar dari meninggakan kemaksiatan adalah tetapnya keimanan dan menjauhkan diri dari yang haram.
 

  • Tingkatan sabar yang kedua adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah dengan terus-menerus melaksanakannya, memelihara keikhlasan dalam mengerjakannya dan memperbaikinya.

Tingkatan kedua ini menunjukkan bahwa melaksanakan ketaatan lebih ditekankan daripada meninggalkan maksiat. Sehingga sabar pada tingkatan kedua ini di atas tingkatan sabar dari meninggalkan maksiat.
Sabar dalam tingkatan kedua ini mengandung tiga hal :
a. terus menerus dalam ketaatan.
b. Ikhlas dalam melaksanakannya.
c. Mengerjakannya sesuai dengan kandungan ilmu.

Ketaatan akan sirna bila salah satunya tidak terpenuhi. Seorang hamba bila terus-menerus dalam ketaatan berarti dia telah menunaikan (ketaatan itu). Dan jika mampu untuk melaksanakannya secara berkesinambungan, maka dia akan menghadapi dua bahaya berikutnya :
 a. Tidak ikhlas, bila yang menimbulkan ketaatannya bukan semata-mata mengharap wajah Allah. Bahaya ini dihindari dengan cara memelihara keikhlasan.

b. Tidak sesuai dengan ilmu, maksudnya ; tidak sesuai dengan sunnah. Dan menghindari bahaya ini dengan mutaba’ah (mengikuti) jejak Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. (Madarijus Salikin jilid 2 hal 171-173 Darul Kutub Al Ilmiyah cet. thn 1420 H)

  • Ada beberapa hal yang akan menuntun seorang hamba sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan, sebagai berikut :
1. Hendaklah dia menyaksikan bahwa Allah Subhanahu wata’ala adalah Pencipta amal perbuatan hamba, baik gerakan-gerakan, tingkah laku dan kehendak-kehendak mereka. Kapan saja Allah menghendaki terjadinya amal perbuatan tersebut maka terjadilah. Dan jika Allah tidak berkehendak maka tidak terjadi. Tidak ada satu debu pun yang bergerak di permukaan bumi maupun di dalam perut bumi melainkan dengan ijin dan kehendak-Nya.

2. Hendaklah dia memandang kepada dosa-dosa yang telah dilakukannya. Dan Allah menimpakan musibah-musibah tersebut disebabkan dosa-dosanya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :


“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy Syuro : 30).

Apabila seorang hamba menyadari bahwa musibah-musibah yang menimpa disebabkan oleh dosa-dosanya. Maka dia akan segera bertaubat dan meminta ampun kepada Allah dari dosa-dosa yang melilit dirinya. Dikatakan oleh Ali bin Abu Tholib dan selainnya :
 “Tidaklah turun suatu malapetaka melainkan karena dosa. Dan tidaklah diangkat (malapetaka tersebut) kecuali dengan bertaubat.”
3. Hendaklah dia mengetahui bahwa Allah bersamanya apabila dia bersabar. Dan Allah cinta dan ridho kepadanya. Jika Allah bersamanya maka dirinya tidak terhanyut oleh berbagai gangguan dan mudharat, dimana tidak ada seorang pun dari kalangan makhluk-Nya yang mampu menghalau. Allah Ta’ala berfirman :


"Dan sabarlah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al Anfal : 46)

Dan Firman-Nya :
“…Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran : 146)

Al Imam Syafi’i berkata dalam sya’irnya :
Bersabarlah yang indah, alangkah dekatnya kelapangan Barangsiapa yang muraqabah (merasa diawasi) Allah dalam seluruh urusan, ia akan berhasil. Barangsiapa yang membenarkan Allah, tidak akan terbawa gangguan. Dan barangsiapa yang mengharapkan-Nya,  Dia akan ada dimana dia mengharap. (Manaqib Asy Syafi’i, Al Baihaqi 2/362).
4. Hendaklah dia mengetahui bahwa jika dia bersabar, maka Allah akan menjadi penolongnya. Sesungguhnya Allah Maha Pelindung terhadap orang-orang yang sabar dan tidak akan menzholiminya.
 

Demikianlah risalah ringkas tentang sabar dalam menghadapi ujian hidup. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita kepribadian yang tangguh dalam menghadapi berbagai cobaan di dunia ini dan kembali ke negeri Akhirat dalam keadaan memperoleh ridho-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.


Sumber : Mutiara Hikmah

Sabtu, 24 Januari 2015

KENALI DIRI DAN TEMAN




Seseorang Bertanya kepada Nabi :
"Beritahulah aku Tanda-Tandanya Orang yang jahil (bodoh/hina) ?"
 
Rasulullah Saw Menjawab :
"Jika kau Temani, dia akan Merepotkanmu.
Jika engkau Jauhi, dia kan Mencelamu.
Bila Memberimu Sesuatu, dia akan Mengungkit-ungkit.
Bila Engkau Memberinya Sesuatu, dia akan Mengingkarinya.
Jika kau Berbicara Tentang Sesuatu Rahasia,
dia akan Mengkhianatimu.
Bila Memberitahu sesuatu Hal yang Rahasia padamu,
ia akan Menuduhmu yg bukan-bukan.
Bila Merasa Cukup, dia Berlaku Sombong dan Kasar.
Jika Butuh Sesuatu,
dia akan Meremehkan Nikmat Tuhan Tanpa Merasa Berdosa.
Jika Senang, dia akan Menghamburkan dan Berlebihan.
Jika ditimpa Kesedihan, dia segera Berputus asa.
Kalau Tertawa, Terbahak-bahak.
Jika Menangis, akan Menjerit-jerit.
Dia selalu Menjelekkan orang baik.
Serta Tidak Mengikuti Aturan Tuhan-Nya.
Juga Tidak Merasa Malu kepada Tuhan-Nya.
Jarang Mengingat Tuhan-Nya.
Jika engkau dianggap menyetujui hal-hal yang ia lakukan,
dia akan Memujimu dengan Pujian yang tidak ada padamu.
Dan Jika Marah kepadamu,
dia akan Mencacimu dengan Suatu kejelekkan yang Tidak Pernah engkau Lakukan.
Itulah tanda-tanda orang jahil"...

Jumat, 16 Januari 2015

15 Perkara Penyebab Terjadinya Bencana Pada Akhir Zaman



PENJELASAN Rasulullah SAW mengenai bencana sering dikaitkan dengan pra-kondisi sebelum terjadinya bencana tersebut. Hadist riwayat Imam Atturmudzi, dan yang menghimpun hadis ini adalah ulama Alwalial annajdwi yang menghimpun 40 hadis yang menerangkan tentang bencana. Ketika dia metafsirkan hadis ini beliau memberi judul “Lima Kedurhakaan / Kemaksiatan yang Dapat Menyebabkan Datangnya Bencana.”

Dari Ibnu Ali bin Abi Thalib berkata, bahwa Rasulullah telah bersabda :

“Bilamana umatku telah mengerjakan 15 perkara ini, maka bala bencana pasti akan turun menimpa mereka.”

Sahabat bertanya.,

“Apa 15 perkara itu ya Rasulullah?”

Rasulullah bersabda,

“Bala akan datang bilamana :
  1. Harta Negara hanya beredar (dipegang) di kalangan orang-orang tertentu.
  2. Apabila amanah telah dijadikan sumber keuntungan.
  3. Apabila zakat dijadikan hutang.
  4. Bala akan datang bilamana suami menurut kemauan isteri.
  5. Anak durhaka terhadap ibunya.
  6. Sedangkan ia berbuat baik kepada teman sebayanya (pada kehidupan keluarga).
  7. Menjauhkan diri dari ayahnya.
  8. Suara-suara ditinggikan di dalam masjid.
  9. Pemimpin suatu kaum adalah orang yang terhina diantara mereka.(banyaknya pemimpin yang dipilih dari golonganya sendiri dengan dalih kebenaran menurut golongan mereka sendiri).
  10. Seseorang dimuliakan karena ditakuti kejahatannya.
  11. Khamer / arak (minuman beralkohol) sudah diminum segala tempat.
  12. Kain sutra banyak digunakan oleh kaum laki-laki.
  13. Penyanyi disanjung-sanjung.
  14. Musik banyak dimainkan.
  15. Generasi akhir umat ini melaknat / menyalahkan generasi pertama yakni para sahabat radiallahu anhum ajmain.

Akhir dari sabda Rasulallah SAW adalah :
“Maka hendaklah mereka menanti angin merah atau gempa bumi atau mereka dirubah menjadi mahluk yang lain apabila mereka telah melakukan 15 perkara tersebut.”


Rabu, 14 Januari 2015

Pekerjaan-pekerjaan Haram di Akhir Zaman



DARI Abu Hurairah ra berkata :
Bersabda Rasulullah SAW, “Akan datang suatu zaman seseorang tidak memerdulikan dari mana ia mendapatkan harta, apakah dari sumber yang halal ataukah haram,” (HR Nasak).

Di zaman sekarang ini merupakan zaman kegersangan ruhiyah dan zaman materialism; segala sesuatu dinilai dengan harta. Manusia cakar-mencakar untuk memperoleh sebanyak mungkin kekayaan, mereka tidak memerdulikan dari mana datangnya harta yang diperoleh, apakah dari sumber yang halal atau dari sumber yang haram. Yang penting, harta dapat dikumpulkan sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kehendak nafsu atau pun untuk melayani kehendak istri atau anak-anak mereka, supaya dapat hidup dengan kemewahan.

Apabila diteliti, ada beberapa jenis pekerjaan dan sumber pendapatan yang haram dan umat Islam saat ini terlibat dengan sumber-sumber seperti berikut:

1. Khammer.

Bekerja dan berusaha mencari sumber kehidupan harus dilakukan dalam kerangka yang dibenarkan agama. Walaupun Islam mewajibkan umatnya bekerja dengan gigih dan berdedikasi, pencarian sumber kehidupan tersebut seharusnya sesuai dengan aturan yang dibenarkan agama saja. Ini termasuk aspek melibatkan minuman memabukkan seperti khammer.

Sebenarnya Islam bukan saja mengharamkan umatnya minum arak, tetapi juga segala perkara yang berhubungan dengan penghasilan dan pemprosesan minuman keras. Mungkin sebagian dari kita beranggapan jika hanya bekerja, tetapi tidak terlibat dengan meminumnya. Padahal ini salah dan amat bertentangan dengan ajaran Islam.

Dalam hal ini, ada baiknya kita lihat apa yang pernah disampaikan Ibnu Mas’ud yang katanya:
“Telah dilaknat dalam (urusan) khamar (arak)  itu, yaitu  orang yang memerah, yang diminta diperahkan, yang meminumnya, yang memberi minuman, orang yang bertugas mengantar, yang membekal, yang menjual, yang membeli dan juga yang menyimpannya.”

Dalam zaman sekarang ini termasuk juga orang yang mengiklankan miras dan orang yang terlibat membeli saham perusahaan miras.

2. Riba.

Islam melarang umatnya bekerja di perusahaan atau perbankan yang menggunakan sistem riba  dalam urusan niaganya. Perusahaan yang yang dimaksud tentu saja seperti di bank-bank konvensional, perusahaan asuransi jiwa, perusahaan keuangan berlisensi (leasing), tempat pajak gadai konvensional dan menjadi penagih kredit untuk perusahaan pinjaman dan sebagainya.

Dari Jabir r.a, ia berkata :
Rasulullah SAW melaknat pemakan riba, pemberi riba, penulis, dan kedua orang yang menjadi saksi atasnya. ia berkata : “Mereka itu sama (saja).”(Hadis Riwayat Muslim : 3/219).

3. Suap.

Islam memberi larangan keras kepada manusia supaya tidak terlibat dalam perbuatan suap. Islam mengharamkan mengaut harta orang lain secara suap sedangkan menyadari perbuatan itu berdosa.

Ketika mengulas perkara itu, Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:
“Allah melaknat pemberi suap, penerima suap dan orang yang menjadi orang perantaraan,” (Hadis riwayat Ahmad).


Senin, 12 Januari 2015

Istri Akhir Zaman





Inilah yang terjadi pada istri-istri pada akhir zaman ini :

  1. Ketika mereka berada di rumahnya, dihadapan suaminya, mereka berpakaian seadanya, rambut acak-acakan dan aroma badannya pun dibiarkan tak sedaap, suaranya keras dan tinggi.
  2. Ketika keluar dari rumahnya, didepan khalayak ramai bahkan didepan laki-laki lain mereka memakai pakaian-pakaian yang bagus, berdandan cantik dan memakai parfum, dan suara yang dilemah-lembutkan.
  3. Mereka bebas keluar dari rumahnya tanpa ada keberanian dari sang suami untuk menegur.
  4. Kebalikannya, ketika suami terlambat pulang sedikit saja langsung dibentak dan diintrogasi.

Wahai Saudaraku..
Inilah kenyataan yang terjadi pada rumah tangga-rumah tangga kaum muslimin. Dimana yang memegang kendali dalam rumah tangga adalah istri, bahkan terkadang suaminya adalah seorang yang abid-ahli ibadah. Tapi dia telah membiarkan istrinya durhaka terhadapnya dengan tidak memberikan pendidikan terhadap istri-istrinya.



Petikan tausyiah, Habib Salim Asysyatiri dalam rihlah dakwah.

Kamis, 01 Januari 2015

Ketika Empat Elemen Bicara

 
 
 
 
 
 
Masih ingat empat elemen yang dikuasai oleh seorang bocah botak di dalam film animasi Avatar. Ya, empat elemen itu sekarang berbicara. Mengajak para manusia berbicara dengan suaranya masing-masing.
 
Diawali dari elemen tanah, memulai pembicaraannya di salah satu kota di Jawa Tengah yakni Banjarnegara. Semua rakyat Indonesia dihebohkan dengan terjadinya longsor yang mengakibatkan puluhan bahkan ratusan manusia menjadi korban. Tanah ingin berbagi cerita dengan manusia. Ketika tanah tak terawat, saat tanah dibiarkan oleh tangan-tangan jahil manusia sehingga ia ingin melakukan ‘curhat’ dengan cara yang tak disangka-sangka.
 
Beberapa saat kemudian, air ikut bersuara memperhatikan tanah berbagi cerita. Air pun mengeluarkan suara pelan-pelan tapi menghanyutkan. Berbondong-bondong air menyerbu bagian selatan kota Bandung. Menyuarakan hak suaranya untuk didengarkan agar manusia bisa lebih menghargai dan merawat lingkungan terutama air yang selalu digunakan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari.
 
Kini, api pun tak mau tinggal diam. Dengan rasa gelisah. Akhirnya, ia beranikan diri untuk berbunyi di malam hari. Berbunyi diantara tumpukan tekstil-tekstil dan berbagai jenis jualan di kios-kios yang ditinggal penghuninya. Api mengajak berdiskusi orang-orang yang terlena dengan berbagai hal-hal dunia yang tak akan pernah dibawa ketika dia meninggalkan dunia.
 
Tanah, air, api bersorak-sorakan. Tiba giliran terakhir, udara ikut berkata. Lewat kata-kata yang tak bisa dihapami oleh manusia ia hilangkan sesaat burung besi yang terbang melaju tanpa tanda-tanda. Walaupun pada akhirnya, tanda-tanda tersebut ditemukan setelah berbagai usaha dikerahkan. Udara ingin ikut serta berdiskusi dan bertukar pendapat dengan manusia. Tapi, manusia masih tak menyadarinya.
 
Dari keempat elemen yang berbicara tersebut. Akankah manusia menjawab dan menaggapi semua yang mereka keluh kesahkan? Ataukah manusia tetap berdiam diri mendengarkan sayup-sayup gejolak dari keempat elemen itu?
 
Empat elemen tersebut berbicara dengan cara mereka masing-masing untuk memberikan teguran dan peringatan kepada manusia agar mereka cepat tanggap dan memperhatikan hal-hal yang ada di sekitarnya.
 
Lebih jauh mendalam. Empat elemen itu mengajarkan kepada manusia bahwa memang benar manusia itu kecil dan tak bisa berbuat apa-apa pada saat keempat elemen berdiskusi. Manusia hanya bisa berdiam dan menyaksikan sesaat ‘forum elemen’ yang dalam beberapa menit terjadi di dunia.
Mereka menunjukkan pada manusia akan ayat-ayatNya. Mereka membuktikan akan keberadaan dan keagunganNya. Masihkan manusia berani melanggar dan menjauhiNya?
 
Tanah, air, api dan udara pun tunduk atas perintah-perintahNya. Mengapa manusia yang diberikan akal dan hati tak mau tunduk atas semua ketentuan yang telah Dia tetapkan?
 
Semua makhluk yang diciptakan memiliki cara masing-masing untuk berdzikir kepadaNya. Siapa yang mengetahui bahwa lewat ‘forum elemen’ tersebut ternyata mereka saling berdzikir kepada Sang Maha Pencipta? Mengingatkan dan mengajarkan kepada manusia untuk ingat dan mengakui akan adanya Dia.
 
Tanah merupakan elemen yang setiap hari manusia temui bahkan diinjak selagi manusia masih diberikan kesempatan berdiri di bumi. Tapi, mengapa manusia tak peka dengan bicaranya tanah?
Air ialah elemen yang tak pernah terlepaskan dari kehidupan sehari-hari manusia. Manusia bisa hidup tanpa makan tapi manusia tak bisa hidup tanpa minum (air). Dielemen ini manusia masih tak menyadari suara-suara dzikir air menyebut-menyebut Sang Kholiq.
 
Api adalah elemen yang menjadi sahabat bagi manusia tatkala dia kecil. Namun, apabila dia besar akan menjadi musuh yang akan menyambar siapa pun di dekatnya. Bukankan setiap hari manusia juga menggunakan api untuk keperluan sehari-hari? Rontahan api pun ternyata tak mampu mengerakkan hati manusia yang sudah tertutup rapat dengan dosa-dosa yang selama ini diperbuat sehingga dia tak bisa mendengarkan bunyi api dikesunyian malam yang mengajarkan arti penting kehidupan manusia.
 
Udara pun memiliki peranan penting dalam kehidupan. Disadari ataupun tak disadari manusia selama masih bernafas dia akan menghirup dan mengeluarkan udara. Namun, sorakan udara juga tak bisa mengetuk hati manusia agar bergelitik menyadari bahwa setiap detik manusia menggunakannya. Adakah rasa syukur yang terucap dan teraplikasikan dengan udara yang dihirup tanpa harus membayar sepeser pun? Bayangkan berapa rupiah dan dollarkah yang akan dihabiskan manusia selama dia hidup ketika harus membayar udara yangn dia hirup disetiap detak jantungnya?
 
Begitu banyak pelajaran dan hikmah yang dipaparkan oleh empat elemen yang sedang mengadakan ‘forum elemen’. Masing-masing elemen berbicara, berpendapat dan menyanggah dengan khas tanpa disadari oleh manusia sebab hanya segelintir manusia yang bisa memahami arti segala perbuatan yang terjadi oleh empat elemen tersebut.
 
Setiap saat elemen-elemen itu berbicara sebagai bentuk tunduk dan patuh mereka pada yang menciptakan mereka. Berbeda dengan manusia, setiap saat manusia melupakanNya, hanya berdiam diri seolah-olah tak mempunyai kewajiban yang harus dilaksanakan selama hidup di dunia.
 
Alangkah indah empat elemen itu pada saat berbicara. Kata-kata yang mereka lontarkan adalah ayat-ayatNya. Suara mereka sebagai wujud kebesaran-Nya. Bunyi mereka adalah tanda-tanda yang jelas dan tampak yang diberikan agar manusia menyadari bahwa Dia memang benar memiliki sifat wujud.
Semakin patuhkan kita setelah melihat, mendengar atau bahkan merasakan sendiri empat elemen itu berbicara? Sekilas manusia mengira semua yang terjadi adalah bencana. Padahal, dibalik semua itu mereka bicara untuk mengingatkan dan mengajarkan kepada manusia agar selalu patuh dan tunduk atas semua perintah dan larangan-Nya, agar manusia semakin mendekatiNya. Bukan sebaliknya, malah semakin menjauhkan diri pada Sang Ilahi.
 
Tak jelaskan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaranNya lewat empat elemen yang berbicara tersebut? Tanyakan pada diri ini, terlalu berlimpah dosakah sehingga diri ini tak menyadari?